HLasmana: Love, Life, Live di Komunitas FlexiLand

more than words to share

Photo Galery

  • SMILE
  • November 2008
    MSSRKJS
          1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30

Categories

  • Archives


    Content Tag

    Testimonials

    Blog Roll

    Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 1644 kali

    Malam dan Permukaan Air

    Sebenarnya kalau dipikir-pikir hidup ini seperti berkendaraan pada malam hari. Pandangan kita mengamati jalan amat terbatas oleh cahaya remang yang ala kadarnya. Tak ada yang benar-benar pasti akan keadaan yang akan dilalui; Semua samar. Jalan raya hanya nampak hitamnya saja dibatasi marka dan trotoar, pepohonan hanya terlihat rerimbunan, tak jauh berbeda dengan keadaan di belakang kendaraan. Meski terkadang jelas terlihat karena telah dilalui, namun kita tak dapat melihatnya terus-menerus melalui kaca spion. Salah-salah malah bisa celaka di jalan.

    SEMOGA TIDAK TERULANG LAGI

    Saya membaca email ini dari salah satu mailing-list (milis) yang saya ikuti. Saya belum sempat cek langsung ke Pengurus Pondok Yatim dan anak anak yatim Korban Gempa Bantul, namun demikian hati saya sungguh merasa kecewa sekali dengan perlakuan orang semacam ini yang selalu mengambil keuntungan tanpa mempedulikan siapapun.

    Semoga kita dapat megambil hikmah didalamnya.

    > > > > > > > > > > > > >

    SEMOGA TIDAK TERULANG LAGI

    Teganya ada yang Menipu Pondok Yatim dan anak anak yatim Korban Gempa Bantul .........

    Tulisan ini berangkat dari bentuk keprihatinan atas moral anak manusia bangsa ini. Sungguh tulisan ini kami buat, bukan untuk membuka aib orang lain tetapi semata hanya untuk mengingatkan kepada para pembaca yang budiman agar tidak tertipu seperti kami. Pengalaman kami ini semoga menjadi pelajaran bagi kami dan harapannya kepada para pembaca semua.
    [klik pada judul untuk membaca selengkapnya]

    Rahasia Seorang Pejuang

    (17 Agustus 1995)

    * * * * *

    Usai upacara di sekolah, menikmati pagi yang riuh oleh hiasan bendera di sepanjang jalan, saya bergegas melangkah menuju rumah. Hangat sinar matahari yang baru saja seperempat naik ke permukaan cukup membuat suhu udara menjadi panas dan memicu adrenalin untuk mempercepat langkah. Ditambah lagi ketika berpapasan dengan segerombolan anak balita bersama orang tuanya menuju tanah lapang untuk mengikuti lomba 17an membuat saya semakin tak sabar. Langkah kaki ini, ingin rasanya memasang roket pada alasnya untuk mempercepat. Meski saat ini saya rasakan kecepatan langkahnya nampak tak jauh berbeda dari lomba jalan cepat di olimpiade, namun saya tak ingin berlari untuk mempercepatnya lagi. Bukan apa-apa, takut dianggap berlebihan oleh yang melihat. Untunglah... dalam jarak pandang mata, tiang listrik penanda ujung gang terakhir yang harus saya lewati sudah terlihat. Dari tikungan itu, rumah saya hanya tinggal beberapa langkah.

    [klik pada judul untuk membaca selengkapnya]

    Percaya diri sebagai rasa bangga menjadi bagian bangsa besar

    Jika kita mau merefleksi diri, ada satu hal yang saya perhatikan menjadi sumber keterbelakangan bangsa ini yaitu ketidak percayaan akan kemampuan diri sendiri. Keadaan mental seperti inilah yang menyebabkan mengapa hingga kini bangsa besar yang penuh semangat gotong royong dan pekerja keras ini sulit bersaing dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Bahkan celakanya kini perlahan mulai tersusul oleh mereka yang sebelumnya berada di belakang. Sungguh sebuah ironi.

     

    Ditengah gegap gempita pertumbuhan industri global, dalam berpakaian kita dengan bangga memamerkan baju dengan label luar negeri dibanding pakaian kreasi desainer lokal; Model rambut diatur sedemikian ala punk atau hippies untuk sekedar bergaya; Makan fast food ala barat untuk mengisi perut yang kosong dibanding rumah makan tradisional; Bahkan gawatnya cara berpikirpun ada yang lebih senang dengan gaya liberal yang mengutamakan ke-aku-an ku dibanding rasa kebersamaan dalam nilai-nilai positif yang telah menjadi budaya kita. Kalau pola hidup seperti ini yang menjadi tren, pantas bukan jika kita terus merosot ke bawah dan terpuruk?


    [klik pada judul untuk membaca selengkapnya]

    Mulai, Mulai, dan Mulai!

    Seorang sahabat, kemarin, usai membaca tulisan diblog ini sedikit berkomentar tentang mudahnya saya mengucap teori yang disampaikan, namun nampaknya akan sulit diterapkan. Ia juga sedikit menyinggung detail tulisan ini mulai dari perencanaan yang nampaknya sulit dibuat, penyatuan ragam perbedaan ditengah masyarakat yang sulit disatukan, hingga pencapaian prestasi secara maksimal baik secara individu maupun kelompok. Kesemua itu baginya nampak lebih seperti mimpi di siang hari mengingat keadaan yang serba sulit saat ini.

     

    Namun begitu, meski mengkritik habis-habisan, dalam hatinya ternyata terbersit juga sedikit harapan atas ide dalam tulisan saya tersebut yang ia harap dapat terwujud yaitu penanggalan kepentingan pribadi/kelompok diatas kepentingan bersama. Karena bagaimanapun, menurutnya, keterpurukan pada bangsa ini butuh jalan keluar dan itu dapat terjadi jika kita bersama-sama, bersatu padu dalam proses penyelesaiannya. Karena menurutnya, “Jika bukan kita lalu siapa?” Tak mungkin bukan jika kita harus mengemis pada Negara tetangga untuk membantu, meski serumpun, satu area wilayah yang sama, ataupun begitu dekatnya hubungan antar Negara, permasalahan yang dihadapi sebuah bangsa adalah tugas dan tanggung jawab bangsa itu sendiri untuk menyelesaikannya.


    [klik pada judul untuk membaca selengkapnya]

    Apa, Siapa, dan Bagaimana Membangun Bangsa

    Kita tahu bahwa membangun negeri ini adalah tugas bagi setiap warga negaranya. Ini adalah satu kewajiban yang sepatutnya tak perlu lagi dipertanyakan. Siapapun ia, apapun pekerjaan dan jabatannya, status sosial masyarakat, hingga jenis kelaminnya apa? memiliki kewajiban sama untuk membangun bangsa dan negeri ini menjadi satu bangsa besar diantara bagian masyarakat dunia lainnya. Sebuah bangsa yang mampu menunjukkan dadanya seraya lantang berkata, “Aku bangsa Indonesia!”.

     

    Bicara tentang membangun bangsa dan negeri, sebagai sebuah bangsa besar yang kembali bangkit dari keterpurukan, menurut saya setidaknya ada tiga bagian yang perlu kita cermati dalam prosesnya yaitu, “Apa sebenarnya yang akan kita bangun, siapa yang perlu kita libatkan, dan bagaimana cara membangun yang tepat agar dapat berhasil seperti yang dicita-citakan?”. Ketiga hal dasar tersebut perlu dipersiapkan sebelum kita melangkah lebih jauh agar segala usaha membangun negeri tercinta ini tidak lagi berulang pada kegagalan sebagaimana yang pernah terjadi. Dan mengingat akan hal itulah, saya tertarik memperbincangkannya diblog ini. Tentang kepedulian kita akan nasib bangsa, tentang masa depan, tentang diri kita sendiri juga karena kita adalah bagian di dalamnya. Pada kesempatan ini perkenankan saya menguraikan tiga hal; apa, siapa, dan bagaimana, dalam kaitannya membangun bangsa kita. Bangsa Indonesia tercinta.

    [klik pada judul untuk membaca selengkapnya]

    Tidak hanya merusak, tetapi juga menghancurkan

    Kalau kamu pikir pakai NARKOBA itu tidak merugikan siapapun, baca tulisan ini dan pikirkan… lihatlah betapa para pengedar menghalalkan segala cara demi uang dan tak memikirkan siapapun dan apapun kecuali kesenangan dirinya. Sayangi diri dan keluarga, juga lingkungan terdekat kita dari NARKOBA. Pengaruhnya yang berjangka panjang tidak hanya merusak diri, menghancurkan cita-cita, dan menghilangkan kesempatan terbaik tetapi juga sebuah keluarga, bangsa bahkan spesies bernama manusia kelak musnah hanya demi kenikmatan sesaat.

     

    * * * * *

    [note: kisah ini adalah kiriman e-mail dari seorang teman]

    Seorang teman sekerja, punya adik wanita di Texas dan bersama suaminya membuat rencana untuk berlibur ke seberang perbatasan Mexico untuk berbelanja. Di menit terakhir, baby sitter mereka nggak jadi ikut dan mereka harus membawa anak mereka yang berumur 2 tahun bersama.

    Ketika mereka sudah menyeberang dari perbatasan sekitar satu jam, tiba-tiba anak mereka berlarian ke pojok. Ibunya tentu saja megejar, tetapi anak tersebut hilang. Sebagai ibu, lalu mencari petugas kepolisian, petugas itu lalu meminta ibu tersebut pergi ke gerbang dan menunggu. Tidak mengerti apa maksudnya, ibu itu hanya menurut dan menunggu saja, sesuai permintaan polisi.

    [klik pada judul untuk membaca selengkapnya]

    Bicara tentang narkoba, bicara tentang hati

    Bicara tentang narkoba, benak saya pasti akan kembali ke teman-teman lama yang dulu (saat remaja) biasa berkumpul bersama. Entah itu di sekolah maupun di lingkungan rumah, saat itu, usia belasan tahun memasuki puber adalah saat dimana kebebasan dan pengakuan diri adalah sesuatu yang amat berharga. Dan pada keadaan itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar rasanya jika kemudian coba-mencoba sesuatu (terlepas dari baik ataupun buruknya) menjadi kegiatan yang kerap dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri. Pun termasuk juga didalamnya mencoba narkoba.


    [klik pada judul untuk membaca selengkapnya]